10 Faktor Yang Mempengaruhi Eliminasi Fekal

0
184

ePerawat.com Kali ini dalam kita akan membahas faktor apa saja yang mempengaruhi eliminasi fekal. Ada yang tahu? Ternyata ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi eliminasi fekal/alvi, antara lain:

1. Perkembangan/Usia

Setiap fase pertumbuhan memiliki pola defekasi/eliminasi fekal yang berbeda – beda.

  • Bayi

Makomunium adalah materi feses pertama yang dikeluarkan oleh bayi baru lahir, normalnya terjadi dalam 24 jam  pertama setelah lahir. Makonium bewarna hitam, seperti ter, tidak berbau dan lengket. Feses transisional, yang dikeluarkan sekitar satu minggu setelah lahir, umumnya bewarna kuning kehijauan; mengandung lendir dan encer.

Bayi sering mengeluarkan feses, seringkali sesudah makan. Karena usus belum matur, air tidak diserap dengan baik dan feses terjadi lunak, cair, dan sering dikeluarkan. Apabila usus telah matur, flora bakteri meningkat. Bayi yang diberi ASI memiliki feses yang berwarna kuning terang sampai kuning keemasan.

  • Balita

Kontrol defekasi mulai dimiliki manusia pada usia 1,5 sampai 2 tahun. Pada saat ini, anak-anak telah belajar berjalan dan sistem saraf dan sistem otot telah berbentuk cukup baik untuk memungkinkan kontrol defekasi. Keinginan untuk mengontrol defekasi secara umum dimulai saat anak menyadari:

– Ketidak nyamanan yang disebabkan oleh popok yang kotor

– Sensasi yang menunjukan defekasi

  • Anak usia sekolah sampai Dewasa

Anak usia sekolah dan remaja memiliki kebiasaan defekasi yang sama dengan kebiasaan mereka pada saat dewasa. Pola defekasi beragam dalam hal frekuensi, kuantitas dan kosistensi. Pada tahap anak – anak sampai dewasa biasanya dapat menunda defekasi karena sedang melakukan aktifitas lain.

  • Lansia

Lansia harus dijelaskan bahwa pola normal eliminasi sangat beragam bagi beberapa orang, pola normal dapat setiap dua hari sekali, bagi orang lain, dua kali dalam satu hari. Kecukupan latihan, dan asupan cairan 6 sampai 8 gelas sehari merupakan upaya pencegahan yang esensial terhadap konstipasi. Secangkir air atau teh panas pada waktu teratur di pagi hari sangat membantu bagi beberapa orang. Berespons terhadap refleks gastrokolik (peningkatan paristalsis kolon setelah makan memasuki lambung) juga merupakan pertimabangan yang sangat penting.

Baca juga  Dua Refleks saat Eliminasi Fekal/Defekasi

Individu paruh baya harus diperingatkan bahwa penggunaan laksatif secara konsisten dan menghambat refleks defekasi alami dan diduga menyebabkan konstipasi. Laksatif juga dapat mengganggu elektrolit tubuh dan menurunkan penyerapan vitamin tertentu.

2. Diet/Asupan Makanan dan Cairan

Diet lunak dan diet rendah serat kurang memiliki massa dan oleh karena itu kurang menghasilkan sisa dalam tubuh produk buangan untuk menstimulasi refleks defekasi. Makanan rendah sisa, seperti nasi, telur, daging, dan tanpa lemak, bergerak lebih lambat dalam saluran usus.

Pola makan yang tidak teratur juga mengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang jadwal makannya sama setiap hari memiliki biasannya memiliki respon fisiologis yang waktunya teratur terhadap asupan makanan dan memiliki pola aktifitas peristaltik yang teratur didalam kolon.

Makanan pedas dapat menyebabkan diare dan platus pada beberapa individu. Gula berlebih juga dapat menyebabkan diare. Makanan lain yang dapat mempengaruhi eliminasi fekal meliputi :

  • Makanan penghasil gas, seperti kubis, bawang merah, kembang kol, pisang, dan apel.
  • Makanan penghasil laksatif, seperti kulit gandum, buah prem, ara, coklat, dan alkohol.
  • Makanan penghasil konstipasi, seperti keju, pasta, telur, dan daginmg tanpa lemak.

Bahkan jika asupan cairan memadai atau haluaran (misalnya urine atau muntah) cairan berlebihan karena alasan tertentu, tubuh terus kembali menyerap cairan dari kime saat bergerak di sepanjang kolon. Kime menjadi lebih kering dibandingkan normal, menghasilkan feses yang keras. Selain itu, pengurangan asupan cairan memperlambat perjalanan kime di sepanjang usus, makin meningkatkan penyerapan kembalicairan dari kime. Eliminasi fekal yang sehat biasannya memerlukan asupan cairan sehari sebanyak 2000 sampai 3000 ml.

3. Aktivitas

Aktivitas dapat menstimulasi peristalsis, sehingga mempengaruhi pergerakan kime disepanjang kolon. Apabila kime bergerak dengan cepat, waktu penyerapan kembali cairan kedalam darah menjadi lebih singkat sehingga feses menjadi lunak. Otot abdomen dan panggul yang lemah seringkali tidak efektif dalam meningkatkan tekanan intra abdomen selama defekasi atau dalam mengontrol defekasi. Otot yang lemah  dapat terjadi akibat kurangnya latihan, imobilitas, atau gangguan fungsi nioklien yang tirah baring sering mengalami konstipasi.

Baca juga  Pengertian Kebutuhan Eliminasi Fekal/Alvi

4. Faktor Psikologis

Faktor psikolois ternyata berpengaruh dalam eliminasi fekal/alvi. Orang merasa cemas atau marah mengalami peningkatan aktivitas peristaltik dan selanjutnya mual atau diare. Beberapa orang yang mengalami depresi bisa mengalami perlambatan motilitas usus yang menyebabkan konstipasi.

5. Kebiasaan Defekasi

Pola defekasi sejak dini dapat membentuk kebiasaan defekasi pada waktu tertentu. Banyak orang melakukan defekasi setelah sarapan, saat refkleks  gastrokolik menyebabkan gelombang peristaltik massa di usus besar. Apabila seseorang mengabaikan desakan untuk melakukan defekasi ini, air terus menerus direabsorpsi, menjadi feses mengeras dan sulit dikeluarkan. Apabila refleks defekasi normal dihambat atau diabaikan, refleks terkondisi ini cenderung melemah secara progresif. Apabila terbiasa diabaikan, keinginan pada defekasi akan menghilang.

6. Obat Obatan

Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat mengganggu eliminasi normal. Beberapa obat menyebabkan diare; obat lain, seperti penenang tertentu dalam dosis besar dan pemberian morvin dan kodein secara berulang menyebabkan konstipasi obat tersebut menurunkan aktivitas gastrointestinal melalui kerjanya pada sitem saraf pusat. Tablet zat besi, yang memiliki efek kontraksi (astrigent), bekerja lebih lokal di mukosa usu sehingga menyebabkan konstipasi.

7. Prosedur Diagnostik

Sebelum prosedur diagnostik, seperti visualisasi kolon (kolonoskopi atau sigmoidoskopi), klien dilarang mengkonsumsi makanan atau minuman. Bila enema dapat juga dilakukan pada klien sebelum pemeriksaan. Dalam kondisi ini, defekasi normal biasanya tidak akan terjadi sampai klien mengkonsumsi makanan kembali.

8. Anestesia atau Pembedahan

Anestesi umum menyebabkan pergerakan kolon normal berhenti atau melambat dengan menghambat dengan stimulasi saraf parasimpatis ke otot kolon. Klien yang mendapatkan anastesia regional atau spinal kemungkinan lebih jarang mengalami masalah ini.

Pembedahan saat penanganan usus, secara langsung bisa menyebabkan penghentian pergerakan usus secara sementara. Kondisi ini, yang disebut ileus biasanya berlangsung selama 24 sampai 48 jam mendengarkan bising usus yang merefleksikan motilitas usus merupakan pengajian keperawatan yang penting setelah pembedahan.

Baca juga  Karakteristik Feses Berdasarkan Warna Feses

9. Kondisi Patologi

Cedera modula spinalis dan cedera kepala dapat menurunkan stimulasi sensorik untuk defekasi. Hambatan mobilitas dapat mengatasi kemampuan klien untuk merespons terhadap desakan defekasi dan klien dapat mengalami konstipasi, atau seorang klien dapat mengalami inkontinensial fekal karena buruknya fungsi stingfer anal.

10. Nyeri

Klien yang mengalami ketidak nyamanan saat defekasi (misalnya saat pembedahan hemoroid) seringkali menekan keinginan defekasi untuk menghindari nyeri. Akibatnya, klien tersebut dapat mengalami konstipasi. Klien yang meminum analgesik narkotik untuk mengatasi nyeri dapat mengalami konstipasi sebagai efek samping obat tersebut.

Seperti itulah faktor – faktor yang pempengaruhi eliminasi fekal. Nantikan artikel seputar kesehatan lainnya hanya di ePerawat.com.

Sumber:

Kurniadi, Deby. 2018. 10 Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Fekal. Kudus: ePerawat.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here