6 Masalah Gangguan Eliminasi Fekal

0
233

ePerawat.com Kali ini kita akan membahas seputar gangguan atau masalah dalam eliminasi fekal. Masalah umum yang terkait dengan eliminasi fekal/alvi, yaitu: konstipasi, impaksi fekal, hemorrhoid, diare, inkontinensia alvi, dan flatulens.

6 Masalah Gangguan Eliminasi Fekal

  1. Konstipasi

Konstipasi didefisinikan sebagai defekasi kurang dari tiga kali per minggu. Salah satu cirinya adalah pengeluaran feses yang kering, keras atau tanpa pengeluaran feses. Konstipasi terjadi jika pergerakan feses diusus besar berjalan lambat, sehingga memungkinkan bertambahnya waktu reabsorpsi cairan diusus besar. Konstipasi mengakibatkan sulitnya pengeluaran feses dan bertambahnya upaya atau penekanan otot-otot volunter defekasi.

Penyebab dan faktor yang menyebabkan konstipasi :

  • Ketidakcukupan asupan serat
  • Ketidakcukupan asupan cairan
  • Ketidakcukupan aktivitas atau imobilitas
  • Kebiasaan defekasi yang tidak teratur
  • Perubahan rutinitas harian
  • Kurang privasi
  • Penggunaan laksatif atau enemakronis
  • Gangguan emosional seperti depresi atau kebingungan mental.
  • Medikasi seperti opiat atau garam zat besi

Konstipasi dapat berbahaya bagi beberapa orang, mengejan akibat konstipasi sering kali disertai dengan menahan napas. Hal ini dapat menyebabkan masalah serius pada penderita penyakit jantung, cedera otak, atau penyakit pernapasan. Menahan napas meningkatkan tekanan intratoraks dan intrakranial.

Contoh dan batasan karakteristik konstipasi:

  • Penurunan frekuensi defekasi
  • Feses keras,kering, memiliki bentuk
  • Mengejan saatdefekasi, defekasi terasa nyeri
  • Melaporkan tentang rasa penuh pada rektun atau mengejan atau mengeluarkan feses secara tidak komplet
  • Nyeri abomen, kram atau destensi
  • Penggunaan laksatif
  • Penurunan nafsu makan
  • Sakit kepala
  1. Impaksi Fekal

Suatu massa dimana pengumpulan feses yang keras terjadi didalam lipatan rektum disebut dengan impaksi fekal. Impaksi fekal terjadi akibat retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Pada impaksi berat, feses akan terakumulasi dan meluas sampai ke kolon sigmoid dan sekitarnya. Impaksi fekal dapat dikenali dengan keluarnya rembesan cairan fekal (diare) dan tidak ada feses normal. Cairan feses merembes sampai keluar dari masa yang terimpaksi. Impaksi dapat juga dikaji dengan pemeriksaan rektum menggunkan jari tangan, yang sering kali dapat mempalpasi massa yang mengeras.

Baca juga  Karakteristik Feses Secara Umum

Penyebab impaksi fekal biasanya adalah kebiasaan defikasi yang buruk dan konstipasi. Penggunaan barium dalam pemerikasaan radiologi pada saluran pencernaan atas dan bawah dapat juga menjadi faktor penyebabnya. Oleh karena itu, setelah pemeriksaan ini laksatif atau enema biasanya digunaan untuk pengeluaran barium. Impaksi fekal secara umum dapat dicegah, kadangkala dibutuhkan terapi untuk feses yang mengalami impaksi.

  1. Hemorrhoid

Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran pada vena di daerah anus sebagai akibat dari peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat disebabkan karena konstipasi, perenggangan saat defekasi dan lain – lain.

  1. Diare

Diare merupakam suatu kondisi dimana pengeluaran feses encer dan terjadi peningkatan frekuensi defekasi. Diare adalah kondisi yang berlawanan dengan konstipasi dan terjadi akibat cepatnya pergerakan isi fekal diusus besar. Cepatnya pergerakan kime mengurangi waktu usus besar untuk menyerap kembali air dan elektolit. Beberapa orang mengeluarkan feses dengan frekuensi sering, tetapi diare tidak terjadi kecuali feses relatif tidak berbentuk dan mengandung cairan yang berlebihan.

Diare dan ancaman inkontinensial merupakan sumber kekhawatiran dan rasa malu. Seringkali kram spasmodik dikaitkan dengan diare. Dengan diare persisten, biasnya terjadi iritasi didaerah anus yang meluas ke perineum dan bokong. Keletihan, kelemahan, lelah, dan emasiasi (kurus dan lemah) merupakan akibat dari diare yang berkepanjangan. Diare dapat mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit berat didalam tubuh, yang dapat terjadi dalam periode waktu singkat yang menakutkan, terutama bayi, anak kecil, dan lansia.

  1. Inkontinensia Alvi

Inkontinensia alvi (bowel), atau disebut juga Inkontinensia Fekal, adalah hilangnya kemampuan volunter untuk mengontrol pengeluaran fekal dan gas dari spingter anal. Inkontinensia bisa terjadi pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah makan, atau dapat terjadi secara tidak teratur. Ada dua tipe inkontinensia, yaitu: Inkontinensia Parsial dan Inkontinensia Mayor. Inkontinensia Parsial adalah suatu kondisi ketidakmampuan dalam melakukan kontrol flatus atau mencegah pengotoran minor. Sedangkan Inkontinensia Mayor adalah ketidakmampuan untuk mengontrol feses pada konsitensi normal.

Baca juga  Komputer dalam Praktik Keperawatan

Inkontinensia fekal secara umum dihubungkan dengan gangguan fungsi sfingter anal atau suplai sarafnya, seperti dalam beberapa penyakit neuromuscular, trauma medulla spinalis, atau tumor pada otot sfingter anal eksternal. Inkontinensia fekal dapat membuat “distres emosional” yang pada akhirnya dapat menyebabkan isolasi sosial. Beberapa prosedur bedah digunakan untuk penatalaksanaan inkontinensia fekal, penatalaksanaan ini meliputi perbaikan sfingter dan diversi fekal atau kolostomi.

  1. Flatulens

Sebagian besar gas yang tertelan dikeluarkan melalui mulut dengan bersendawa. Gas yang tidak dikeluarkan akan terkumpul di perut, yang menyebabkan distensi lambung. Flatulens adalah suatu keadaan dimana keberadaan flatus yang berlebihan di usus dan menyebabkan peregangan dan inflasi usus (distensi usus). Flatulens dapat terjadi di kolon akibat dari beragam penyebab, seperti makanan (missal : kol, bawang merah), bedah abdomen, atau narkotik.

Terdapat tiga sumber utama flatus:

  • Kerja bakteria dalam kime diusus besar
  • Udara yang tertelan
  • Gas yang berdifusi diantara aliran darah dan usus

Apabila gas dikeluarkan dengan cara meningkatkan aktivitas kolon sebelum gas tersebut dapat diabsorbsi, maka gas akan dikeluarkan melalui anus. Apabila gas yang berlebihan tidak dapat dikeluarkan melalui anus, mungkin perlu memasukkan slang rektal untuk mengeluarkannya (scorstein).

Pada keadaan normal, orang dewasa biasanya menghasilkan 7 sampai 10 L flatus di dalam usus besar setiap 24 jam (sehari). Gas ini terdiri atas karbon dioksida, metan, hydrogen, oksigen dan nitrogen. Beberapa gas tertelan bersama makanan dan minuman yang masuk melalui mulut, yang lain dibentuk dari kerja bakteria pada kime di usus besar, dan gas lain berdifusi dari darah ke saluran pencernaan.

Sumber:

Kurniadi, Deby. 2018. 6 Masalah Gangguan Eliminasi Fekal. Kudus. ePerawat.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here