Fisiologi Defekasi/Eliminasi Fekal

0
134

ePerawat.com Kali ini kita akan membahas seputar Fisiologi Defekasi. Dalam pembahasan ini akan di jelaskan secara singkat dan jelas bagaimana fisiologi saat kita melakukan defekasi atau eliminasi fekal.

Proses eliminasi fekal/alvi dilakukan pada sistem pencernaan bagian bawah, yaitu: mulai dari usus halus, usus besar, rectum hingga anus. Berikut ini akan dibahas secara singkat organ-organ yang berperan dalam eliminasi fekal pada sistem pencernaan beserta fungsinya :

1. Usus Halus

Usus halus merupakan organ yang berperan dalam pencernaan dan penyerapan makanan. Usus halus adalah lumen muscular yang dilapisi membrane mukosa yang terletak diantara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari:

  • Duodenum

Duodenum adalah saluran berbentuk seperti huruf C dengan panjang sekitar 25 cm yang terletak dibagian belakang abdomen.

  • Jejenum dan Ileum

Panjang jejenum dan ileum bervariasi antara 300 dan 900 cm. jejenum berukuran lebih besar, memiliki dinding yang tebal, lipatan membrane mukosa yang lebih banyak dan plak penyeri lebih sedikit.

2. Usus Besar

Usus besar memanjang dari katup ileosekum (ileokolik), yang membujur  antara usus halus dan usus besar hingga ke anus. Usus besar adalah sebuah saluran otot yang dilapisi oleh membrane mukosa. Serat otot berbentuk sirkular dan longitudinal, yang memungkinkan usus membesar dan berkontraksi melebar dan memanjang.

Usus besar adalah organ pengering dan penyimpanan makanan kolon mengekstraksi H2O dan garam dari isi lumernya untuk membentuk masa padat yang disebut feses. Fungsi utama usus besar adalah penyerapan kembali sisa – sisa metabolisme serta untuk menyimpan feses sebelum dikeluarkan. Kolon terdiri dari 7 bagian yaitu sekum, kolon asendens, kolon tranversal, kolon desendens, kolon segmoid, rektum dan anus. Kolon pada orang dewasa umumnya memiliki  panjang sekitar  125 sampai 150 cm (50–60 inch).

Baca juga  Dua Refleks saat Eliminasi Fekal/Defekasi

Usus besar adalah sebuah organ saluran otot yang dilapisi oleh membrane mukosa. Serat otot yang dilapisi oleh membrane mukosa. Serat otot berbentuk sikular dan longitudinal yang memungkinkan usus membesar dan berkontraksi melebar dan memanjang. Jika dilihat dari panjangnya, otot longitudinal mempunyai ukuran yang lebih pendek dibandingkan kolon, oleh karena itu usus besar membentuk kantung atau yang biasa disebut dengan haustra. Kolon juga memberi fungsi perlindungan karena mensekresikan lendir. Lendir ini berperan untuk melindungi usus besar dari trauma akibat pembentukan asam di dalam feses dan berperan sebagai pengikat yang akan menyatukan materi fekal. Lendir ini juga akan melindungi usus besar dari aktifitas bakteri.

Di dalam usus besar terdapat 3 tipe pergerakan yaitu:

  1. Pergerakan Haustral Churning, gerakan haustral churning akan menggerakan makanan kebelakang dan kedepan yang berperan untuk menyatukan materi feses, membantu penyerapan air dan untuk menggerakan isi usus kedepan.
  2. Peristalsis Kolon, gerakan peristalsis kolon adalah gerakan yang menyerupai gelombang yang akan mendorong isi usus kedepan. Gerakan ini sangat lambat dan diduga sangat sedikit menggerakan materi feses tersebut disepanjang usus besar.
  3. Peristalsis Massa, gerakan ini melibatkan suatu gerakan kontraksi yang sangat kuat sehingga menggerakan sebagian besar kolon. Biasanya gerakan peristalsis massa terjadi setelah makan dan distimulasi oleh keberadaan makanan di dalam lambung dan usus halus. Gerakan peristalsis massa hanya terjadi beberapa kali dalm sehari pada orang dewasa.

3. Rektum dan Anus

Rektum pada orang dewasa biasanya memiliki panjang 10 – 15 cm sedangkan saluran anus memiliki panjang 2,5 – 3 cm. Di dalam rektum terdapat lipatan-lipatan yang dapat meluas secara vertikal. Setiap lipatan vertikal berisi sebuah vena dan arteri. Diyakini bahwa lipatan ini membantu feses di dalam rektum.

Baca juga  Karakteristik Feses Berdasarkan Warna Feses

Saluran anus dilengkapi dengan otot sfingter internal dan eksternal. Sfingter internal berada di bawah kontrol involunter oleh sistem saraf otonom, sedangkan sfingter eksternal berada di bawah kontrol volunter dan dipersarafi oleh sistem saraf somatik.

Seperti itulah penjelasan singkat dan padat mengenai fisiologi defekasi atau saat eliminasi fekal. Nantikan artikel seputar kesehatan lainnya hanya di ePerawat.com.

Sumber:

Kurniadi, Deby. 2018. Fisiologi Defekasi / Eliminasi Fekal. Kudus: ePerawat.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here